Senja
Sore itu matahari tenggelam perlahan ke arah barat. Selalu saja, senja itu tetap sama, sunyi seperti sebelumnya. Sekaligus senja yang selalu mengingatkannya pada sosok laki-laki bernama Didin yang tak lain dan tak bukan adalah adiknya sendiri. Adik yang memiliki jarak usia tidak terlalu jauh, tepatnya 1 tahun lebih muda darinya. Mengingat usia Didin yang hanya terpaut 1 tahun lebih muda darinya membuat mereka sangat akrab layaknya dua orang sahabat yang tidak akan terpisah.
Senja... selalu mengingatkannya pada suatu peristiwa besar yang mengguncang hidupnya sampai detik ini. Detik dimana dia akan termenung dan menyalahkan dirinya sendiri.
Saat itu ketika sang fajar tenggelam, dia dan adiknya sedang menonton film horor dari laptop di dalam kamarnya. Awalnya keadaan baik-baik saja, tidak ada yang mencurigakan, sampai-sampai sebuah suara gaduh dari lantai bawah membuat mereka berdua terheran. Ayah dan ibu sedang pergi, lantas siapa yang membuat keributan di bawah? Baru saja mereka akan beranjak dari sofa kamarnya, tiba-tiba dua orang tak dikenal masuk begitu saja ke dalam kamarnya dengan senjata tajam di tangannya.
"Jangan bergerak, atau saya tembak!" Ucap salah satu orang yang memakai pakaian serba hitam dengan topeng di wajahnya.
Didin berusaha memberontak dan berniat melawan, tidak peduli dengan ancaman yang diberikan. Namun, baru satu langkah Didin berjalan, peluru dari senjata tajam itu menghujam tepat di dadanya. Seketika suasana mencekam dan kedua orang tak dikenal itu melarikan diri entah kemana. Wanita muda itu terpaku dengan apa yang baru saja dia lihat. Adiknya, adik kesayangannya pergi untuk selama-lamanya sesaat setelah matahari tenggelam dari peradabannya.
Seketika wanita muda itu tersadar dari lamunannya. Meringis dan memegangi kepalanya yang tentu saja membuat rambut halus itu berantakan. Dia berjalan ke sudut kamarnya, masih memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.
Wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar.
"Didiiiiinnnnn!" Tiba-tiba ia seperti memanggil sebuah nama. Melengking, keras. Namun, kemudian hilang ditelan parau.
Tiba-tiba terdengar suara pintu berdecit yang menandakan pintu kamar wanita muda itu terbuka. Pintu terbuka diiringi sosok wanita paruh baya yang menunjukkan raut wajah khawatir.
"Kamu kenapa Nduk?" Ucapnya dengan kekhawatiran yang kentara.
"Didin Mak..." suaranya terdengar lirih.
"Nduk itu kan sudah 2 tahun yang lalu, mbok yo sudah ndak usah diingat lagi. Ayo ikut ibu sama ayah kondangan di Karesidenan, sudah jam 6 sore nanti terlambat." Ucap ibu yang kemudian melangkah pergi dari kamar wanita muda itu.
Senja, selalu mengingatkannya akan kenangan sekaligus kehancuran jiwanya.
Cerpen yang bagus. Coba kalau Anda bisa bertahan tidak segera mengakhiri cerita ini.
BalasHapusIni pembetulannya (alinea tetap bertahan)
Senja
Sore itu matahari tenggelam perlahan ke arah barat. Selalu saja, senja itu tetap sama, sunyi seperti sebelumnya. Sekaligus senja yang selalu mengingatkannya pada sosok laki-laki bernama Didin yang tak lain dan tak bukan adalah adiknya sendiri. Adik yang memiliki jarak usia tidak terlalu jauh, tepatnya 1 tahun lebih muda darinya. Mengingat usia Didin yang hanya terpaut 1 tahun lebih muda darinya membuat mereka sangat akrab layaknya dua orang sahabat yang tidak akan terpisah.
Senja... selalu mengingatkannya pada suatu peristiwa besar yang mengguncang hidupnya sampai detik ini. Detik di mana dia akan termenung dan menyalahkan dirinya sendiri.
Saat itu ketika sang fajar tenggelam, dia dan adiknya sedang menonton film horor dari laptop di dalam kamarnya. Awalnya keadaan baik-baik saja, tidak ada yang mencurigakan, sampai-sampai sebuah suara gaduh dari lantai bawah membuat mereka berdua terheran. Ayah dan ibu sedang pergi, lantas siapa yang membuat keributan di bawah? Baru saja mereka akan beranjak dari sofa kamarnya, tiba-tiba dua orang tak dikenal masuk begitu saja ke dalam kamarnya dengan senjata tajam di tangannya.
"Jangan bergerak, atau saya tembak!" ucap salah satu orang yang memakai pakaian serba hitam dengan topeng di wajahnya.
Didin berusaha memberontak dan berniat melawan, tidak peduli dengan ancaman yang diberikan. Namun, baru satu langkah Didin berjalan, peluru dari senjata tajam itu menghujam tepat di dadanya. Seketika suasana mencekam dan kedua orang tak dikenal itu melarikan diri entah ke mana. Wanita muda itu terpaku dengan apa yang baru saja dia lihat. Adiknya, adik kesayangannya pergi untuk selama-lamanya sesaat setelah matahari tenggelam dari peradabannya.
Seketika wanita muda itu tersadar dari lamunannya. Meringis dan memegangi kepalanya yang tentu saja membuat rambut halus itu berantakan. Dia berjalan ke sudut kamarnya, masih memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.
Wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar.
"Didiiiiinnnnn!" Tiba-tiba ia seperti memanggil sebuah nama. Melengking, keras. Namun, kemudian hilang ditelan parau.
Tiba-tiba terdengar suara pintu berdecit yang menandakan pintu kamar wanita muda itu terbuka. Pintu terbuka diiringi sosok wanita paruh baya yang menunjukkan raut wajah khawatir.
"Kamu kenapa Nduk?" ucapnya dengan kekhawatiran yang kentara.
"Didin Mak..." suaranya terdengar lirih.
Oh siap pak terima kasih atas sarannya. Jadi ini saya revisui atau bagaimana?
BalasHapusmantap keren, simple tapi konflik nya tetep dapet, imajinasi yang luar biasa!
BalasHapus